presiden dan para ajudan

presiden dan para ajudan
presiden dan ajudan (koleksi setpres-dedi anung)

Ajudan Terakhir Bung Karno

 pasted from : Abd Syair, http://syair79.wordpress.com/2010/06/27/ajudan-terakhir-bung-karno/#comment-939
 Minggu, Juni 27th, 2010 6:18 pm




Sidarto Danusubroto adalah ajudan terakhir Bung Karno. Sehari setelah peringatan meninggalnya (haul) Bung Karno, 21 Juni lalu, dia menuturkan kembali pengalamannya mendampingi proklamator itu. Banyak cerita menarik yang belum terungkap.

Pandangan mata Sidarto Danusubroto menerawang ketika mulai bercerita mengenai sosok yang sangat dikaguminya itu, Soekarno. Pria 74 tahun tersebut tidak akan melupakan peristiwa yang dialami pada 10 Desember 1967.

Saat itu, Bung Karno memberinya sebuah buku berjudul Sukarno An Autobiography karya Cindy Adams. Sampul buku tersebut berwarna merah dengan foto Bung Karno yang berjas putih, berpeci, sambil tertawa lebar. Ketika memberikan buku itu, Bung Karno yang tengah berada di ujung kejatuhannya menyampaikan wejangan kepada Sidarto.

Bung Karno menyatakan bahwa dirinya bisa dikucilkan, dijauhkan dari keluarga, bahkan ditahan dan lama-lama akan mati sendiri. ’’Tapi, catat ya To, (Sidarto, Red), jiwa, ide, ideologi, semangat, tak dapat dibunuh,’’ ungkap Sidarto menirukan ucapan Bung Karno saat ditemui di kediamannya, Jalan Kemang Utara, Jakarta Selatan, Rabu (22/6).

Bung Karno mengutip kalimat yang diucapkannya itu dari filsuf Jerman, Freili Grath, yang dalam bahasa aslinya berbunyi, ’’Man totet den Geist Nicht.’’ Sidarto sempat tertegun mendengarnya. Secara spontan, dia lantas meminta Bung Karno untuk menuliskan ucapannya tersebut di halaman depan buku yang baru diterimanya.

’’Waktu beliau bicara begitu, saya bilang, Pak (Soekarno, Red) tolong ditulis sekalian di situ. Maka, jadilah tulisan ini,’’ ujar Sidarto sambil menunjukkan buku ’’bersejarah’’ yang masih terawat baik itu.

Dengan nada bercanda, Sidarto menyatakan, coretan tangan Bung Karno itulah yang dijadikan salah satu materi kampanyenya saat pemilu legislatif lalu. Dia mencetak tulisan tersebut di panel baliho kampanyenya. Hebatnya, model kampanye itu manjur. Sidarto terpilih kembali jadi anggota DPR dari PDIP untuk periode ketiga sejak 1999.

Alumnus Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Jakarta 1962 tersebut kembali terpilih dalam Pemilu 2009 dari dapil Jawa Barat VIII yang meliputi Kabupaten dan Kota Cirebon serta Kabupaten Indramayu. Meski sudah cukup umur, Sidarto masih terlihat bugar dan energik.

Dia memang berkesempatan dekat dengan Bung Karno. Sebab, sejak 6 Februari 1967, Sidarto yang kala itu berpangkat adjun komisaris besar polisi (AKBP) ditugasi menjadi ajudan Bung Karno. Dia menggantikan Kombespol Sumirat yang ditahan pasca-Supersemar. Surat keputusan pengangkatan Sidarto ditandatangani Bung Karno pada 22 Februari 1967.

Baru tiga bulan Sidarto menjalankan tugas, situasi politik nasional yang tengah memanas mencapai klimaksnya. Pada 12 Maret 1967, keluar TAP MPRS XXXIII/MPRS/1967 yang melucuti kekuasaan eksekutif Bung Karno. Melalui TAP itu juga Soeharto diangkat jadi pejabat presiden.

Meski Soekarno sudah tidak mempunyai kekuasaan, Sidarto tetap tidak ditarik dari posisinya sebagai ajudan. Sewaktu menghadap pimpinan Polri, dia diperintah agar terus mendampingi Bung Karno. ’’Pemerintah memandang Bung Karno perlu didampingi ajudan. Jadi, saya melayani presiden yang ditahan,’’ tuturnya.

Tapi, untuk sementara, Soekarno yang diposisikan sebagai ’’presiden nonaktif’’ masih diperbolehkan tinggal di Istana Merdeka. Sampai suatu hari, sekitar Mei 1967, Bung Karno yang didampingi Sidarto yang baru saja pulang dari jalan-jalan keliling Jakarta dicegat dan dilarang masuk istana. ’’Saya ingat, beliau habis nyate (makan sate, Red) sama saya di pinggir Pantai Cilincing,’’ cerita Sidarto.

Karena tidak diperbolehkan masuk istana, Bung Karno langsung menuju kediaman Wisma Yaso (sekarang menjadi Museum Satria Mandala, Red) di Jalan Gatot Subroto. Karena mendadak, presiden pertama republik itu tidak sempat berkemas. ’’Barang-barang pribadi beliau sama sekali tidak bisa dibawa,’’ ungkap mantan Kapolda Sumbagsel (1986-1988) tersebut.

Terusir dari istana juga berarti kehilangan fasilitas protokoler, termasuk sekretaris presiden. Karena itu, Sidarto kemudian mendapat tugas tambahan baru, yakni jadi ’’sekretaris’’ Bung Karno. ’’Jadi, saya sempat jadi ajudan sekaligus sekretaris dadakan Bung Karno. Hasil ketikan saya ya kurang proporsional seperti ini,’’ katanya sambil menunjukkan sejumlah copy surat yang masih disimpan dengan rapi.

Sejak meninggalkan istana, sebagian besar surat Bung Karno malah ditandatangani Sidarto. Misalnya, surat yang ditujukan pada Pangdam VI Siliwangi Letkol Abas tertanggal 27 September 1967. Surat tersebut menginformasikan daftar nama para pekerja untuk penyelesaian rumah di Batu Tulis, Bogor.

Mengapa Bung Karno tidak menandatangani sendiri surat itu? ’’Ini kan soal teknis dan rutin dari presiden ke bawahan (Pangdam). Jadi, mungkin cukup ajudan saja yang menandatangani,’’ jelas pria kelahiran Pandeglang, 11 Juni 1936, itu.

Menurut Sidarto, tak lama setelah meninggalkan Istana Merdeka, Bung Karno tak ubahnya tahanan kota. Untuk mobilitas Jakarta-Bogor saja, Bung Karno harus mendapat izin tertulis dari Pangdam VI Siliwangi dan Pangdam V Djayakarta. Nah, tugas mengurus perizinan itu dibebankan ke pundak Sidarto.

’Jadi, tugas saya, bolak-balik mengurus exit permit dan entry permit. Jakarta-Bogor sudah kayak ke luar negeri saja,’’ ujar bapak lima anak itu sambil geleng-geleng kepala.

Pada penghujung Desember 1967, Bung Karno mulai berstatus tahanan rumah. Dia tak boleh lagi meninggalkan Wisma Yaso. Bahkan, keluarga dan kerabat sulit menemui Bung Karno. Untuk membesuk Bung Karno, mereka harus mendapat izin lebih dulu dari otoritas yang berwenang.

Dalam periode susah seperti itu, Sidarto kembali mendapat pengalaman yang tak terlupakan. ’’Saya disuruh ke sana-kemari mencari duit. Sebab, Bung Karno tidak pegang duit,’’ katanya.

Menurut dia, Bung Karno memang seorang negarawan yang genius. Namun, soal keuangan pribadi, dia tak begitu memperhatikan. Karena itu, saat jadi tahanan rumah, Bung Karno sering kehabisan uang pegangan maupun uang untuk biaya hidup sehari-hari.

’’Sewaktu disuruh mencari duit itulah, saya sempat bingung dari mana bisa memperolehnya. Sebab, orang-orang dekat Bung Karno sewaktu saya dekati malah lari semua. Mereka takut. Hanya satu-dua orang yang masih setia,’’ ujar Sidarto yang kini duduk di Komisi I DPR tersebut.

Suatu ketika, Bung Karno meminta Sidarto menemui Tukimin, mantan pejabat rumah tangga Istana Merdeka. Tanpa kesulitan berarti, Sidarto berhasil mendapatkan USD 10 ribu dari Tukimin.

Kesulitan justru terjadi saat hendak membawa uang itu ke Wisma Yaso. Sidarto takut digeledah penjaga, kemudian uangnya disita. Tak kehilangan akal, dia lalu memasukkan uang tersebut ke kaleng biskuit. Dia lantas menemui Megawati dan meminta putri Bung Karno itu membawakannya untuk Bung Karno. ’’Mbak Mega yang bawa masuk. Mbak Mega kan bisa beralasan mengunjungi ayahandanya,’’ kenang Sidarto.

Pada 23 Maret 1968, turun surat resmi dari Markas Besar Angkatan Kepolisian (saat ini Mabes Polri, Red) yang berisi penarikan Sidarto dari posisinya selaku ajudan Bung Karno. ’’Saat kondisi kesehatan Bung Karno semakin lemah, fungsi ajudan semakin tidak diperlukan. Yang lebih dibutuhkan adalah dokter dan perawat. Saya lalu diminta Panglima Angkatan Kepolisian (saat ini disebut Kapolri, Red) Soetjipto Joedodihardjo untuk ditarik,’’ jelasnya.

Meski dalam surat penarikan Sidarto masih disampaikan kemungkinan dikirimkan penggantinya, faktanya, ajudan baru itu tak pernah ada. Jadi, Sidarto tercatat sebagai ajudan terakhir Bung Karno.(ari)

Sutarman dan Kisah Gus Dur 'Mundur'

Rabu, 24/11/2010 21:36 WIB

E Mei Amelia R - detikNews


Jakarta - Kapolda Metro Jaya Irjen Sutarman punya cerita tersendiri mengenai almarhum mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Mantan ajudan Gus Dur ini punya banyak cerita menarik saat mengawal tokoh pluralisme tersebut.

Sutarman mengaku bisa membuat tokoh pluralisme itu mundur. Maksudnya?

"Yang bisa mengendalikan Gus Dur itu hanya ajudannya. Pak Amien Rais menyuruh mundur, nggak bisa dia. Kalau kata ajudan, 'Gus di depan ada lubang,' mundur. Mundur dia," kata Sutarman disambut gelak tawa wartawan di ruang kerjanya di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (24/11/2010).

Ya, cerita 'mundur' ini bukan maksud menyuruh Gus Dur mundur dari kepemimpinannya, melainkan mundur dari langkah kakinya.

"Saya banyak cerita itu sama beliau itu," katanya.

Mantan Kapolda Jawa Barat ini juga mengagumi pribadi Gus Dur. "Daya ingatnya kuat. Kemudian visi ke depannya juga kuat," kata lulusan Akpol tahun 1981 ini.

Kekagumannya soal Gus Dur lainnya yakni kepemimpinan. Pria yang hobi trademill ini mengacungi jempol atas pengaruh Gus Dur yang kuat terhadap masyarakat Jawa Timur.

"Hebat, saya termasuk pengagum beliau. Dengan konsistensi dan bagaimana dia membawa rakyat kecil ini untuk memajukan daerah, bahkan dianggap sebagai wali. 70 persen kalau digerak Gus Dur, Jawa Timur itu mendukung," ungkapnya.

Kuatnya pengaruh Gus Dur di Jatim inilah yang akhirnya mendapatkan dukungan sebagai presiden. Menurut mantan Kapolres Jakarta Barat, kalau ingin menjadi presiden, harus bisa menguasai daerah Jawa.

"Makanya kalau mau jadi presiden itu kuasai Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jawa timur itu pemilihnya 38 juta, Jawa Barat juga sekitar itu. Itu sudah menguasai 70 juta dari penduduk, itu kuncinya," tutupnya.

Pasted from <http://www.detiknews.com/read/2010/11/24/213602/1501764/608/sutarman-dan-kisah-gus-dur--mundur->

Tewasnya Ajudan Susno Murni Kecelakaan

Sabtu, 16 Oktober 2010 | 22:25 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Markas Besar Polri menyatakan, mantan ajudan Komisaris Jenderal Susno Duadji, Ipda Anjar Saputro (35), tewas akibat kecelakaan murni. Anjar mengalami kecelakaan lalu lintas di daerah Parung Bogor, pada Kamis (14/10/2010) lalu.

"Berdasarkan informasi yang disampaikan Kapolda Jawa Barat, dengan meminta keterangan dari Kapolres Bogor, kecelakaan yang dialami Ipda Anjar merupakan kecelakaan murni," ungkap Kepala Divisi Humas Markas Besar Polri Inspektur Jenderal Iskandar Hasan lewat pesan singkat kepada Kompas.com, Sabtu (16/10/2010).

Iskandar memaparkan, kecelakaan yang menimpa Ipda Anjar terjadi pada hari Kamis (14/10/2010) pukul 16.45 WIB. 
Lokasi kecelakaan sendiri berada di Jalan Raya Salabenda, Kampung Salabenda Pintu Air, RT 03 RW 05, Dusun Parakanjaya, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor.
Berdasarkan keterangan Iskandar, Ipda Anjar yang mengendarai kendaraan roda dua dari arah Salabenda menuju ATS. Saat hendak mendahului angkutan umum, Anjar hilang keseimbangan.

"Dia terjatuh ke lajur kanan, helmnya terlepas. Berbarengan dari arah berlawanan ada kendaraan roda empat jenis Mitsubishi L300 dan melindas Ipda Anjar," terang Iskandar.

Ipda Anjar diketahui meninggal di lokasi kejadian, jenazahnya dibawa ke Rumah Sakit PMI Bogor. Sementara pengendara roda empat berinisial I (45), asal Tanah Sereal, Kota Bogor, diperiksa di Polres Bogor.

Jenazah Ipda Anjar sudah dimakamkan pada hari Jumat (15/10/2010) di Taman Makam Pahlawan di Bogor. 

Anjar adalah ajudan Susno Duadji sejak masih menjabat sebagai Kepala Polisi Daerah Jawa Barat hingga menjadi Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri.

Menurut pengacara Susno, Ari Yusuf Amir, Anjar telah berkali-kali diperiksa tim independen Polri sebagai saksi terkait kasus yang menjerat Susno Duadji. "Dia disuruh macam-macam saat diperiksa, tapi enggak mau. Beliau konsisten, enggak ada takutnya," kata Ari.


 BERITA SELANJUTNYA

 Berita duka itu mengejutkan Komjen Pol Susno Duadji dan keluarganya. Ipda Anjar Saputro, seorang polisi yang merupakan mantan ajudan Susno Djuadji, tewas dalam sebuah kecelakaan di Bogor. Kabar ini membuat Susno shock. Selama menjadi Kapolda Jabar dan Kabareskrim, Susno selalu didampingi polisi itu.

Pengacara Susno, Ari Yusuf Amir, saat dihubungi detikcom membenarkan kecelakaan yang menimpa Anjar. Pihak keluarga Susno dan juga tim pembela Susno juga turut hadir dalam pemakaman Anjar siang tadi.

Saat mendengar berita meninggalnya Anjar, kata Ari, Susno terlihat sangat shock. "Pak Anjar sudah menjadi ajudan bapak sejak di Polda Jabar sampai Kabareskrim," kata Ari.

Direktorat Ajudan Jenderal Angkatan Darat

Indonesia - Inggris
Kata  Diterjemahkan ke:

ajudan    :    adjutant
ajudan    :    chief petty officer

Indonesia - Inggris

A.G.          :   [Adjutant General] Ajudan Jenderal
ADC         :   [aide-de-camp] ajudan; pembantu
adjutant   :   n. ajudan (tentara)
aide          :  n. ajudan; pembantu
ajidan       :      ajudan

Berawal pada periode perang kemerdekaan yang berlangsung antara tahun 1945 dan 1949, nama Ajudan Jenderal secara formal belum dikenal di lingkungan Angkatan Perang Republik Indonesia. Namun, dalam kurun waktu tersebut, fungsi Ajudan Jenderal telah dilaksanakan melalui berbagai kegiatan serta wadah organisasi meskipun sangat sederhana, tidak terpadu, dan belum terpusat. fungsi Ajudan Jenderal yang relatif lengkap, baru dikenal setelah terbentuknya Staf "A" sesuai dengan penetapan Menteri Pertahanan RI No: 126/MP/1949, tanggal 10 Desember 1949.
Melihat ruang lingkup tugasnya, Staf "A" inilah yang merupakan cikal bakal Ajudan Jenderal.

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), mengeluarkan surat penetapan No : TAP 300/ KSAD/PNT/50, tanggal 28 Desember 1950 tentang penetapan status quo kepangkatan militer Angkatan Darat dan pemberian nomor register pusat atau NRP, bagi anggota TNI AD. Pada tanggal 28 Desember 1950, penyelenggaraan fungsi teknis militer Ajudan Jenderal dianggap sangat penting. Akhirnya, tanggal tersebut setelah melalui diskusi, dipilih dan ditetapkan sebagai hari jadi Ajudan Jenderal.

Dari tahun 1950 sampai tahun 1985, lembaga Ajudan Jenderal telah mengalami perubahan-perubahan dan perkembangan. Perubahan nama dan pemisahan pun sempat terjadi :
Tahun 1950 bernama Direktorat Ajudan Jenderal (Ditaj).
Tahun 1971 menjadi dua lembaga yaitu Induk Administrasi AD (Inminad) & Pusat Ajudan Jenderal (Pusaj).
Tahun 1978 berubah lagi menjadi Jawatan Administrasi dan Personil TNI AD (Janminpersad)
Tahun 1985, kembali menjadi Direktorat Ajudan Jenderal (Ditajen) sampai sekarang.

Markas Besar Direktorat Ajudan Jenderal Angkatan Darat (Ditajenad) sekarang beralamat di Jalan Vijaya Kusuma No. 1 Bandung, Jawa Barat.